NYONGKOLAN : Tradisi Unik Budaya Sasak
Budaya merupakan
sesuatu yang terbentuk melalui kebiasaan dan kepercayaan masyarakat melalui
symbol-simbol tertentu. Masyarakat suku sasak merupakan masyarakat yang tumbuh
dan berkembang dengan berbagai macam tradisi yang sampai saat ini masih terus
dijalani. Budaya sasak, selain unik , menarik juga untuk diketahui makna dan
nilai yang terkandung dibalik penyelenggaraanya. Salah satu yang menarik adalah
sistem perkawinannya. Sistem perkawinan ini terdiri dari beberapa proses, salah
satunya adalah nyongkolan yang akan kita bahas di sini.
Nyongkolan
berasal dari kata songkol atau sondol yang artinya mendorong dari belakang.
Dapat juga diartikan sebagai proses iring-iringan dan mengawal pengantin untuk
bertandang ke rumah pengantin wanita. Nyongkolan ini dilakukan setelah akad
nikah dilaksanakan, bisa sehari atau seminggu setelah akad nikah tergantung
dari kesiapan keluarga pengantin pria. Bahkan yang pernah saya temui, ada yang
melakukan akad nikah dan nyongkolan pada hari yang sama, hal ini dimaksudkan
untuk menghemat biaya. Karena, tidak dapat dipungkiri adat nyongkolan ini
menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
Berbicara tentang
nyongkolan saat ini sudah banyak berubah karena dipengaruhi oleh perkembangan
zaman atau modernisasi. Tidak dapat dipungkiri sekarang nyongkolan dipandang
sebagai hal yang negative. Karena nyongkolan identik dengan ugal-ugalan,
mabuk-mabukan, dan pembuat macet. Padahal jauh dari hal tersebut, nyongkolan
adalah tradisi yang telah dibangun oleh nenek moyang kita yang sangat sakral,
dan seharusnya nilai dasarnya tetap kita pegang teguh.
Menurut salah
satu narasumber, yaitu papuk qadar dan amaq Awang. Selain sakral, proses
nyongkolan merupakan momen yang memahagiakan bagi kedua pengantin, karena
mereka diarak seperti raja dan ratu sehari diiringi oleh para dayang-dayangnya
untuk memberitahukan kepada khalayak bahwa mereka telah sah sebagai suami
istri. Sekaligus pertemuan antara mempelai wanita dengan seluruh keluarganya.
Kemudian, nilai yang terkandung dari nyongkolan ini dapat dilihat dari pakaian
adat yang digunakan oleh pengantin. Karena baju adat pengantin
ini tidak dapat digunakan secara sembarangan.
Bagi penganti laki-laki, menggunakan
baju adat yang memiliki nilai tersendiri seperti berikut : Capuq/Sapuk ( batik, palung , songket),
merupakan mahkota bagi pemakainya sebagai tanda kejantanan serta menjaga
pemikiran dari hal-hal yang kotor dan sebagai lambang penghormatan kepada Tuhan
yang maha esa; Baju Pegon ( warna gelap ), Pegon sebagai lambang keanggunan dan
kesopanan. Bagian belakang pegon agak terbuka untuk memudahkan penggunaak
keris; Leang / dodot / tampet ( kain songket), bermakna semangat dalam berkarya
pengabdian kepada masyarakat; Kain dalam dengan wiron. Bermakan sikap
tawadduk-rendah hati; Keris, Penggunaan keris disisipkan pada bagian belakang
jika bentuknya besar dan pada bagian depan jika agak kecil. Dalam aturan
pengunaan keris sebagai lambang adat muka keris ( lambe/gading) harus menghadap
kedepan, jika berbalik bermakna siap beperang atau siaga. Keris bermakna kesatriaan,
keberanian dalam mempertahankan martabat; Selendang Umbak ( khusus untuk para
emangku adat ). Umbak adalah sabuk gendongan yang dibuat dengan ritual khusus
dalam keluarga sasak. Dihujung benang digantungkan uang cina ( kepeng bolong). Umbak
untuk busana sebagai lambang kasih sayang dan kebijakan.
Kemudian
untuk baju adat pengantin perempuan sebagai berikut : Pangkak/payas, mahkota
pada wanita berupa hiasan emas berbentuk bunga; Tangkong, pakaian sebagai
lambang keanggunan dapat berupa pakaian kebaya; Tongkak, ikat pinggan yang
dililitkan menutupi pinggang sebagai lambang kesuburan dan pengabdian; Lempot,
berupa selendang yang disampirkan di pundak kiri sebagai lambang kasih sayang;
Kereng. Berupa kain tenun songket sebagai lambang kesopanan, dan kesuburan;
Asesoris, gendit /Pending berupa rantai perak
sebagai ikat pinggang, Onggar-onggar, jiwang(anting), Suku /talen( uang
emas atau perak yang dibuat bros) kalung dll.
Dalam
proses nyongkolan. Pengantin pria berada dibelakang mempelai wanita diikuti
oleh para pengiring dan musik gong gamelan seperti dodak, gendang belek dan
lainnya. Sesampainya di kediaman pengantin perempuan, arak-arakan disambut juga
oleh para pengiring (disebut penyambut) dari pihak perempuan, untuk dibawa
ketempat singgasana atau disebut “kuadeq”, sekaligus sebagai sebagai tempat
untuk meminta doa restu kepada keluarga. Adanya penyambut dan kuadeq ini
menandakan bentuk keterbukaan atau sambutan dari pihak keluarga perempuan
kepada keluarga laki-laki, sekaligus telah merestui atau merelakan anaknya
diberikan kepada pihak laki-laki untuk membina hidup baru bersama suaminya.
Dilihat
dari prosesnya, nyonngkolan bisa saja dilihat sebagai sebuah bentuk suka cita
pangantin sekaligus memberi penghiburan bagi masyarakat yang melihatnya. Tetapi
jangan sampai nilai kesakralan yang sudah ditanamkan sejak dulu luntur begitu
saja dengan alasan mengukti arus modernisasi. Karena pada dasarnya tetap saja
nyongkolan adalah sebuah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Mantap!!
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusSangt berfaedah ..
BalasHapusTerbail dari segala yg terbaik, bermanfaat bagi pembaca
BalasHapusIsinya bermanfaat
BalasHapuskeunikan tradisi nyongkolan yang berada di sasak membuat kita sadar bahwa budaya itu perlu dilestarikan dan dipertahankan. kembangkan
BalasHapusBagus👍
BalasHapuskerja bagus.. jangan lupa kunjungi guys tidakpakejudul.blogspot.com
BalasHapusBermanfaat bagi pembaca
BalasHapusBermanfaat bagi pembaca
BalasHapusSapu sae
BalasHapusBaguss.
BalasHapusBagus
BalasHapusBagus
BalasHapusbagus
BalasHapusMANTAP.
BalasHapus